Sabtu, 17 Oktober 2015

Memaknai Hijrah ( 1437 H )

Ilustrasi (Foto: Imam ES 19/7/2020)
 
Sepenggal kalimat pendek saja, bahwa hijrah atau beranjak/pindah dari satu titik ke titik lain pasti membawa efek perubahan. Menurut saya simpel saja dalam konteks perpindahan dari titik A ke B, sesuai fitrah manusia hasil dari perpindahan itu pastinya menginginkan suatu perubahan yang lebih baik. ini sekilas teorinya,,selanjutnya...realisasi di butuhkan tekad baja tanpa goyah..he..he....


Pertama, adanya penyesalan atas perbuatan tidak baik (salah, maksiat atau dosa ) dan di ikuti dengan pertobatan real.

Kedua, hijrah dari diri sendiri dengan di dasarkan pada tekad "Niat" yang kuat untuk meraih perubahan.

Rasul SAW bersabda dalam hadisnya : 
Artinya : Setiap pekerjaan harus atau pasti disertai oleh niat. Maka, barang siapa hijrahnya didorong dengan niat karena Allah hijrahnya akan dinilai demikian. Dan barang siapa berhijrah didorong oleh keinginan duniawi atau karena ingin mengawini seorang wanita maka hijrahnya dinilai sesuai dengan tujuan tersebut (HR Bukhari Muslim)
         

Ketiga, hijrah dari keluarga
dalam perilaku dan sistem. Hijrah perilaku maksudnya hijrah dari perilaku yang kurang memperhatikan keluarga dan anak menjadi perilaku yang penyayang, peduli, dan bertanggung jawab.

Hijrah dari sistem yang tidak mendukung terbentuknya keluarga harmonis dan keluarga jauh dari nilai-nilai agama berubah menjadi sistem yang mengarahkan seluruh anggota keluarga mejadi harmonis, penuh cinta dan kasih sayang, serta dekat dengan Allah. 

Selain itu, hijrah dalam perilaku pula mencakup sikap kita kepada tetangga. Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa tetangga adalah saudara terdekat kita. Merekalah yang pertama memberikan bantuan ketika kita membutuhkannya. 

Allah mengingatkan kita untuk selalu menjaga keluarga kita dari siksa api neraka, sebagaimana firmanNya : 

Artinya  Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At Tahrim 6) 

Keempat, Sebagai masyarakat, hijrah yang diperlukan adalah hijrah perilaku dan cara pandang. Hijrah dalam konteks ini bertujuan membentuk masyarakat yang saleh, religius, amanah, baik secara perilaku maupun pemikiran. 

Pada saat ini sebagian dari kehidupan nyata agak memprihatinkan. Baik itu masyarakat maupun elite politik sering membuat umat Islam terkotak-kotak secara politik, pemikiran, maupun sosial. 

Oleh karena itu, momentum tahun baru Hijriyah harus dijadikan refleksi untuk mewujudkan umat yang kuat. 

Kelima, hijrah dalam konteks kehidupan berbangsa adalah hijrah dari pemerintahan yang korup kepada pemerintahan yang bersih, jujur, amanah, dan peduli pada rakyat kecil. 

Keenam , hijrah yang diperlukan sebagai bangsa adalah hijrah dari perilaku hukum yang tidak adil menjadi hukum yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Berhijrah dari nafsu mengorbankan orang lain ke arah semangat perjuangan penuh pengorbanan. 

Selamat berjuang, semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita & memberi jalan yang mudah serta terlindung dari syetan yang terkutuk...aamiin



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berita Foto Rapat Kerja (Raker) PD IPARI Purbalingga

    Rapat Kerja (Raker) PD IPARI Purbalingga, Anrawina Owabong, Kamis (22/2/2024)  (FOTO: Imam Edi Siswanto) Berikut Rapat Komisi/Bidang dan...