![]() |
| Belajar ilmu agama secara konsisten sekaligus salah satu upaya memakmurkan mushala di kampung. (Foto: Imam Edi Siswanto) |
#1 Peran Keluarga dalam Menumbuhkan Kecintaan Anak terhadap Masjid
Oleh: Imam Edi Siswanto, SAg, MH
Masjid dan mushala sejatinya bukan hanya ruang ibadah, melainkan pusat pembentukan iman, akhlak, dan karakter umat. Namun, realitas di banyak tempat menunjukkan berkurangnya keterlibatan anak dan remaja dalam kehidupan masjid.
Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari peran keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama dalam pendidikan keagamaan. Kecintaan anak terhadap masjid tidak tumbuh secara tiba-tiba, tetapi dibentuk melalui proses pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman emosional yang berakar dari rumah.
BACA: https://ediripin.blogspot.com/search/label/Ceramah%20Singkat
Artikel ini mengulas peran strategis keluarga dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap masjid, dengan berpijak pada dalil Al-Qur’an dan hadis, praktik pendidikan di masa Rasulullah SAW dan para sahabat, serta didukung oleh temuan ilmiah kontemporer.
Harapannya, pembaca tidak hanya memahami secara konseptual, tetapi juga tergerak untuk mengambil langkah nyata dalam menghidupkan masjid dan mushala di lingkungan masing-masing.
Keluarga sebagai Madrasah Pertama Anak
Dalam Islam, keluarga dipandang sebagai madrasah pertama bagi anak. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” [QS. At-Tahrim 66: 6]
Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan iman dan akhlak anak berada di pundak orang tua. Kecintaan terhadap masjid merupakan bagian dari pendidikan iman tersebut. Anak yang sejak kecil diperkenalkan dengan masjid, baik melalui shalat berjamaah, kegiatan keagamaan, maupun interaksi social, akan membangun asosiasi positif antara masjid dan rasa aman, nyaman, serta kebersamaan.
Rasulullah SAW sendiri menegaskan pentingnya pembiasaan ibadah dalam keluarga. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka saat mereka berumur sepuluh tahun jika mereka meninggalkannya, serta pisahkan mereka (antara laki dan perempuan) ditempat tidur” [Riwayat imam Ahmad no. 6756, Abu Daud, no. 495].
Perintah ini bukan sekadar instruksi ritual, melainkan proses pendidikan bertahap yang melibatkan keluarga sebagai pengantar anak menuju masjid.
Teladan Rasulullah SAW dan Praktik di Masa Sahabat
Sejarah Islam mencatat bahwa masjid di masa Rasulullah SAW adalah ruang yang hidup dan ramah bagi keluarga, termasuk anak-anak. Nabi SAW tidak mengusir anak-anak dari masjid, bahkan menunjukkan sikap penuh kasih kepada mereka. Dalam sebuah hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah menggendong cucunya, Hasan dan Husain, saat shalat. Hal ini menjadi pesan simbolik bahwa kehadiran anak di masjid bukan gangguan, melainkan bagian dari pendidikan iman.
Para sahabat juga mencontohkan hal serupa. Anak-anak dibiasakan hadir di masjid untuk belajar Al-Qur’an, mendengarkan nasihat, dan menyaksikan langsung praktik ibadah. Masjid menjadi ruang social, edukatif yang membentuk kelekatan emosional anak dengan nilai-nilai Islam. Dari sinilah lahir generasi sahabat dan tabi’in yang memiliki ikatan kuat dengan masjid sepanjang hidup mereka.
Perspektif Ilmiah: Pembiasaan dan Kelekatan Emosional
Kajian psikologi perkembangan dan sosiologi agama menunjukkan bahwa pengalaman keagamaan sejak dini sangat berpengaruh terhadap komitmen religius di masa dewasa. Pembiasaan ibadah dalam keluarga dan lingkungan yang suportif membentuk religious attachment, yaitu keterikatan emosional terhadap simbol dan institusi keagamaan, termasuk masjid.
Penelitian menunjukkan bahwa anak yang diajak orang tuanya beribadah bersama dan dilibatkan dalam aktivitas keagamaan memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mempertahankan praktik keagamaannya saat dewasa. Sebaliknya, jika masjid hanya diperkenalkan sebagai ruang yang kaku, penuh larangan, atau tanpa kehangatan sosial, anak cenderung menjaga jarak secara psikologis.
Temuan ini sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang menekankan tarbiyah bil qudwah (pendidikan melalui keteladanan). Anak belajar bukan dari nasihat semata, tetapi dari apa yang ia lihat dan rasakan di lingkungan keluarganya.(*)
