Assalamu'alaikum wr. wb.
ACARA NGABUBURIT
Sepintas ungkapan kata ngabuburit sudah tidak asing bagi kita. Apalagi bagi
kalangan remaja acara ini biasa menjadi populer di saat ramadhan. Bahkan
ratingnya jauh lebih tinggi mengalahkan kegiatan ramadhan yang sesungguhnya, seperti berjamaah
sholat tarawih, belajar/pengajian, khataman dan lain-lain.
Dan acara ngabuburit sendiri
melingkupi personal, keluarga dan kelompok baik remaja, tua atau komunitas. Acara yang lebih banyak didominasi non formal atau non ceremonial bisa juga meningkat menjadi acara formal dalam satu penyelenggaraan. Baik di rumah makan,
gedung, kantor atau
tempat yang lain.
Seiring perkembangan zaman acara ngabuburit menjadi trend di
setiap waktu menunggu jelang berbuka puasa.
ARTI NGABUBURIT
Dengan meminjam tulisan blog tetangga, saya baca bahwa ngabuburit berasal
dari kata "burit' istilah bahasa sunda yang artinya
"sore/petang" http://nusanthara.wordpress.com/2013/07/12/ngabuburit-dalam-arti-sebenarnya/
Istilah ini menjadi sangat populer karena didukung publikasi media electronic
seperti Televisi, radio dan koran.
Secara etimologis kata ngabuburit mempunyai
arti menunggu senja, senada dengan pengertian diatas dalam Lembaga Basa dan
Sastra Sunda (LBSS), ngabuburit berarti ngalantung ngadagoan burit, yang
artinya kurang lebih bersantai-santai sambil menunggu waktu sore.
Namun secara
istilah kata ngabuburit mempunyai makna yang lebih luas karena kata ngabuburit
senantiasa menjadi jargon yang khas ketika bulan ramadhan tiba, ngabuburit bisa
diartikan menunggu buka puasa sambil menghabiskan waktu dengan
aktivitas-aktivitas yang positiv. http://skhatzey.blogspot.com/2011/08/kenapa-harus-kata-ngabuburit.html
BUDAYA
Ngabuburit secara
umum bisa dikata menjadi primadona bagi sebagian kalangan masyarakat. Sebagai
contoh bahwa dalam setiap jelang waktu mghrib tempat-tempat umum seperti
alun-alun, lapangan olah raga, taman, serta tempat-tempat lainya seperti
pinggiran sungai, pantai, sawah, pegunungan, bendungan dll tak kalah ramainya
dengan warung-warung makanan yang bisa di kata sangat padat, di ramadhan tahun
kemarin 2013.
Jika saya amati di Purbalingga saja tempat saya tinggal sebagai
kota kecil dengan pertumbuhan kuliner yang cukup signifikan hampir di pastikan penuh
sesak. Bahkan warung atau restoran yang di pinggiran kota dan sepi menjadi
ramai dan menjadi antri.
Dan ini berakibat tidak terpenuhinya kebutuhan
masyarakat yang membutuhkan tempat untuk sekedar membatalkan puasa. hal ini bisa jadi
ini menjadi peluang munculnya tempat-tempat penjual makan baru.
Kenapa demikian? Mungkin
saja hal baru ini muncul akibat perubahan gaya hidup sebagian masyarakat
akan seiring perubahan sarana dan fasilitas yang tersedia. Kini waktu telah
terus menuntut pada perubahan-perubahan
kebiasan gaya hidup baru
yang akhirnya mejadi kebiasaan
dan memuncak menjadi "ngabuburit".
Pertanyaannya adalah siapa
yang mempelopori dan siapa yang di untungkan atau bahkan di rugikan dengan
acara yang sebenarnya tidak ada
secara khusus di bulan Ramadhan ini.?
Kami tidak akan membahas persoalan
pengaruh dan akibat yang ditimbulkan baik postif atau negatif dari ngabuburit,
karena kami tidak berkompeten dengan persoalan ini.
Hemat kami yang menarik
adalah, bagaimana budaya ngabuburit yang sudah lazim ini kita arahkan menjadi acara yang
kembali ke makna menghargai, memanfaatkan dan memaksimalkan soal waktu. Sebab
bagi kami ngabuburit esensinya ada pada pemanfaatan waktu yang digunakan untuk
menunggu disertai ada
kegiatan atau acara yang
bermanfaat.
WAKTU
Ngabuburit bisa menjadi acara
yang istimewa dan prestisius apabila waktu itu kita bisa memanfaatkannya dengan
baik, bermanfaat dan maksimal karena beroutput pada hasilnya yang bermanfaat
bagi dirinya, keluarganya serta lingkungannya serta efektif dan efesien dalam
pengeluaran uang atau dana.
Apa yang harus di lakukan? Sekalipun kami bukan
ahli tafsir, namun hemat kami sebelumnya mari kita pelajari bersama makna dari
QS Al ’Ashr (103) yang berisi hanya 3 ayat, Pokok-pokok
isinya: Semua
manusia berada dalam keadaan merugi apabila dia tidak mengisi waktunya dengan
perbuatan-perbuatan baik.
Ayat pertama Allah sampai bersumpah demi waktu
1. “Demi masa” 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar
dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan
nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Dalam tafsir al ashar karya
Buya Hamka. http://tafsir.cahcepu.com/alashr/al-ashr-1-3/
“Demi masa!” (ayat 1). Atau demi waktu ‘Ashar, waktu petang hari seketika
bayang-bayang badan sudah mulai lebih panjang daripada badan kita sendiri,
sehingga masuklah waktu sembahyang ‘Ashar. Maka terdapatlah pada ayat yang
pendek ini dua macam tafsir.
Syaikh Muhammad Abduh menerangkan di dalam Tafsir Juzu’ Amma bahwa telah
teradat bagi bangsa Arab apabila hari telah sore, mereka duduk bercakap-cakap
membicarakan soal-soal kehidupan dan ceritera-ceritera lain yang berkenaan
dengan urusan sehari-hari.
Karena banyak percakapan yang melantur, keraplah
kejadian pertengkaran, bersakit-sakitan hati sehingga menimbulkan permusuhan.
Lalu ada yang mengutuki waktu ‘Ashar (petang hari), mengatakan waktu ‘Ashar
waktu yang celaka, atau naas, banyak bahaya terjadi di waktu itu.
Maka
datanglah ayat ini memberi peringatan “Demi ‘Ashar”, perhatikanlah waktu
‘Ashar. Bukan waktu ‘Ashar yang salah. Yang salah adalah manusia-manusia yang
mempergunakan waktu itu dengan salah.
Mempergunakannya untuk bercakap-cakap
yang tidak tentu ujung pangkal. Misalnya bermegah-megahan harta, memuji diri,
menghina merendahkan orang lain. Tentu orang yang dihinakan tiada terima, dan
timbullah saling sengketa.
Lalu kamu salahkan waktu ‘Ashar, padahal kamulah yang salah. Padahal kalau
kamu percakapkan apa yang berfaedah, dengan tidak menyinggung perasaan teman
dudukmu, tentulah waktu ‘Ashar itu akan membawa manfaat pula bagimu.
SOLUSI
Bagi yang super sibuk, ngabuburit tidak akan berlaku namun bagi yang memiliki waktu luang utamanya bagi para remaja adalah penting untuk diberi ruang yang cukup dan baik.
Apapun istilahnya baik
ngabuburit atau dengan bahasa yang lain, intinya bagi kami adalah ada pada
persoalan mengisi acara atau kegiatan yang di anggap “menunggu” waktu maghrib
adalah diwarnai dengan berbagai macam kegiatan yang positif.
Jika kita belum
mau bergabung dengan komunitas atau organisasi, bisa kita siasati dengan,
membaca, menulis, menghafal, melukis, bertafakur/berfikir positif, browsing
internet/jelajah wacana keilmuan, baik yang berhubungan Al Qur’an/Hadist atau
ilmu umum yang bermanfaat.
Dan jika kita suka berkumpul/berorganisasi maka bisa kita
isi dengan, diskusi, mengajar, bekerja, berwirausaha, berkumpul bersama
keluarga dengan diskusi agama yang ringan, mengajari keluarga dengan cara
berwudlu, sholat, etika, bahasa dan lain-lain.
Semua tergantung kita untuk
mengusir rasa malas dan sungkan untuk melakukan sesuatu, saran kami jika
berkenan, maka mulai hari ini mari kita bersama-sama membuat agenda/acara untuk
mengisi waktu itu dengan maksimal.
PENUTUP
Semoga tulisan sederhana
ini bermanfaat bagi kami, keluarga kami, shabat dan Saudara-saudara, serta semoga
niat baik kita di bulan suci Ramdhan, sesuci dengan harapan dan tujuan kita
meraih insan muttaqien dan semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Rahmat,
Hidayah & Inayah-Nya kepada kita..aamiin.
Salam damai dan sejahtera
bagi kita semua
Wassalamu’alaikum Wr. Wb