Tampilkan postingan dengan label Wisata & Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata & Kuliner. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Oktober 2022

Asiknya Naik Perahu Bersama Keluarga di Pantai Pangandaran

 

 Bersama Keponakan di Pantai Pangandaran, Minggu (27/3/2022) lalu. Foto: Nurlela

Penulis : Nurlela - Editor : Edi Siswanto

Oh ya sobat traveler, bukan kali ini saja saya naik perahu menyusuri sungai, danau atau pantai. Rasanya cukup berbeda saat naik perahu bersama keluarga di pantai Pangandaran beberapa waktu yang lalu.

Tepatnya pada hari Minggu (27/3/2022) lalu, saya bersama keluarga berwisata ke pantai Pangandaran di Jawa Barat, dengan tujuan mempererat tali silaturahmi khususnya keluarga besar kami Eyang (Nenek) Rubes.

Memang naik perahu bukan hal yang luar biasa, namun bagi kami naik perahu di sungai di danau dan di pantai memiliki sensani tersendiri.

Sebab saat naik perahu atau getek yang terbuat dari bambu dengan perahu yang terbuat dari viber atau kayu bagi saya berbeda rasanya.

Getek dengan tenaga manusia terasa lebih lambat dan kaki juga basah karena kena air sungai. Sementara naik perahu kayu menyusuri pantai Pangandaran lebih cepat karena menggunakan mesin atau motor.

Saat perahu mulai berjalan, semilir angin pantai mulai terasa dan teriknya mataharipun tidak terasa. Pemandangan luas cakrawala membentang, bak permadani yang tidak bertepi.

Di atas perahu yang sedang melaju, senyum keluarga saat naik perahu bersama, menambah keasyikan tersendiri. Gemercik suara ombak di ujung perahu seiring suara deru mesin melengkapi suasana perjalanan kami.

Oh ya sobat traveler, sebelumnya kami bersama keluarga berangkat dari rumah pukul 04.00 WIB dan sampai di Kota Cilacap pukul 06.00 WIB.  Di Cilacap kami sekeluarga berhenti sejenak untuk sholat subuh dan sarapan pagi dengan bekal yang sudah disiapkan dari rumah.

Usai sarapan pagi, kami melanjutkan perjalanan dengan bus yang berisi 16 orang menuju lokasi pantai Pangandaran dan tiba kurang lebih pukul 08.00 WIB.

Tiba di Pantai Pangandaran suasana masih terasa belum panas, kami dan keluarga kembali berkumpul dan menyempatkan untuk makan bersama dengan makanan atau jajanan yang kami bawa.

Saat sedang asyik makan di atas tikar sambil menikmati suasana pantai Pengandaran, tiba-tiba ada seorang laki-lai yang menawarkan untuk perahu dengan tariff perorang Rp 25 ribu untuk dewasa dan Rp 20 ribu untuk anak-anak.

Menurut laki-laki tersebut, harga tiket sudah termasuk full tiket, yakni untuk masuk ke Pasir Putih, Pagar Alam, masuk goa, dan masih banyak yang lainnya. Tidak lama berselang, kami dan keluarga kemudian naik perahu menuju lokasi yang dituju.

Saat perahu mulai melaju menyebrangi lautan, sungguh pemandangan laut itu tampak sangat indah. Dan saat di atas perahu terpaan ombak yang besar sangat terasa.

Sembari melihat aneka ikan dan tumbuhan di dasar laut seperti rumput laut atau lumut, saya merasakan angin laut yang kencang, namun terasa sejuk menerpa wajahku.

Kejernihan air laut di pantai Pangandaran tampak lebih indah dan menarik untuk selalu dilihat.  

Tidak terasa perjalanan menyebrangi lautan kurang lebih 20 menit sampai di bibir pantai Pasir Putih.

Sesampainya di Pasir Putih, saya bersama keluarga tidak membuang-buang waktu untuk menikmati suasana dan keindahannya. Dan banyaknya monyet menambah wisata keluarga kami jadi semakin seru disaat memberi makan (kwaci) untuk monyet.

Oh ya sobat traveler, ada sedikit tips saat memberi makan untuk monyet. Menurut petugas yang berjaga di Pasir Putih bahwa saat memberi makan jangan sambil melihat monyet, karena kita bisa jadi kaget dibuatnya.

Betul memang kata petugas itu, ternyata saat saya mencoba memberi makan buat monyet tersebut, ternyata saya dibuat kaget ketika makanan itu diambil monyet. Untuk itu, Saya setelah itu diberi saran oleh si penjaga monyet.

Tips tersebut berguna, agar kita tidak kaget kemudian menjerit. Karena jika menjerit akan memancing monyet untuk mendekati kita dan bisa jadi akan menggigit atau mencakar tangan kita.

Sobat Traveler, demikian cerita singkat wisata kami bersama keluarga saat berkunjung dan menikmati suasana Pantai Pangandaran di Jawa Barat. Terimakasih semoga bermanfaat.(IES)

Senin, 15 Maret 2021

Kreatif, Teras Rumah Jadi Kolam Ikan

Kolam ikan hias di depan rumah (Foto: Imam ES)

Teras kecil di halaman rumah milik seorang warga Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah direnovasi menjadi kolam ikan hias yang cukup menarik. Adanya kolam mini, menambah suasana depan rumahnya menjadi lebih indah dan menambah betah.

Kolam ikan hias berukuran tinggi 60 CM, lebar 90 CM , panjang 2,25 Meter dan dalam air 45 CM ini, dibuat dimasa Pandemi Cobid-19. Masa untuk banyak tinggal di rumah dimanfaatkanya untuk membuat kolam ikan tersebut.

Kolam ikan hias yang masih menyatu dengan rumah, berada tepat di depan rumah sebelah kiri. Posisi yang sebelumnya dimanfaatkan untuk menaruh aneka tanaman dan beberapa perabotan seperti tempat sepatu dan sandal, kini berubah menjadi kolam ikan hias yang minimalis.

Baca Juga : https://ediripin.blogspot.com/2021/03/modal-kecil-manfaakan-sudut-rumah-jadi.html

Uniknya, kolam ikan tersebut juga di beri kaca bening tembus pandang layaknya aquarium di tempat wisata ikan. Sehingga ikan koi dan ikan emas yang berenang dengan ceria di iringi suara lembut air terjun, akan terlihat dari luar dan tentunya akan selalu menyapa tamu atau pejalan kaki yang lewat. 

Aneka ikan hias yang tampak dari luar kaca selalu menarik perhatian anak-anak yang lewat, sehingga menjadi salah satu hiburan gratis. 

Sebuah kolam ikan hias dari renovasi teras rumah (Foto: Imam ES)

Kolam ikan hias tampak selalu jernih, karena ada empat kolam kecil disampinga. Salah satunya berisi chamber di dalamnya yang berfungsi untuk memfilter atau menyaring air.

Menurut pemiliknya, kolam dengan dinding kaca di buat dengan merenovasi tembok yang sebelumnya berfungsi sebagai tralis teras. Kemudian diganti dengan kaca bening yang cukup tebal menyesuaikan kekuatan tekanan air kolam ikanya.

Adapaun biaya untuk merenovasi cukup terjangkau, yakni untuk ongkos tukang, beli peralatan pompa air, serta pernak-pernik kolam lainya.(IES)

Modal Kecil, Manfaatkan Sudut Rumah Jadi Taman Bunga

Taman Minimalis disalah satu sudut teras belakang rumah. (Foto: Imam ES)

Sisi keindahan adalah fitrahnya manusia. Siapapun suka akan suasana yang indah, asri, sejuk dan nyaman. Dengan modal kecil, kita bisa memanfaatkan sisi ruang atau sudut rumah  kita menjadi taman bunga yang indah.

Sudut ruang rumah kita, biasanya berada di teras depan atau belakang. Namun bisa jadi sudut ruang itu berada di ruang tamu, bagian samping atau dilantai dua, tiga rumah kita. Yang jelas kita bisa memanfaatkan sudut rumah yang kurang atau tidak maksimal pemanfaatannya.

Berdasarkan beberapa pengalaman pribadi dan pengamatan pada rumah-rumah teman, kami mencoba menghadirkan beberapa tips yang mungkin bisa dicoba di rumah para pembaca setia kami.

Baca Juga : https://ediripin.blogspot.com/2021/03/kreatif-teras-rumah-jadi-kolam-ikan.html

Kita mulai dari teras atau halaman rumah bagian kiri. Bagi kami yang tidak memiliki halaman atau pekarangan depan rumah yang luas, cukuplah bagi kami memanfaatkan beberapa meter persegi untuk menjadi taman minimalis.

Kita bisa menaruh beberapa pot dengan berbagai aneka bunga kesukaan kita. Dari pot ukuran sedang hingga pot ukuran besar. Karena ruang yang sempit maka kami sarankan lebih banyak menaruh pot bunga dengan ukuran yang kecil dan sedang. Untuk ukuran besar cukup 1 atau 2 saja. (Seperti tampak dalam gambar).

Taman Minimalis disalah satu sudut teras depan rumah. (Foto: Imam ES)
Berikutnya, sisi depan bagian kanan. Bagi rumah yang memiliki ruang untuk tempat parkir kendaraan roda dua atau roda empat sebaiknya bisa ditempatkan pot bunga ukuran kecil yang tersusun rapi di atas rak besi, bambu, kayu atau menggantung/menempel di dinding agar tidak mengganggu aktifitas keluar masuk kendaraan. (Seperti dalam gambar)

Selanjutnya, masih disisi bagian depan rumah, seperti kios atau gudang yang mungkin tidak/belum dimanfaatkan. Karena tepat dipinggir jalan atau gang, maka disudut ruang ini bisa ditempatkan pot bunga dengan ukuran cukup besar dengan pohon atau bunga yang berbatang besar juga. Seperti pohon sawo, jeruk, jambu dan lain lain. Dan aneka pohon atau tanaman yang cukup besar bisa berfungsi sebagai penahan debu. (Lihat gambar atas).

Taman Minimalis disalah satu sudut teras depan rumah. (Foto: Imam ES)
Terahir kita manfaatkan sudut rumah bagian belakang atau teras belakang. Karena posisnya di dalam bagian rumah, aneka pot, bunga dan tanaman lainya bisa kita tempatkan sesuai selera. Mulai dari bunga berbatang kecil hingga tanaman bunga yang merambat.

Pot juga bisa ditempatkan langsung di atas tanah, di atas bebatuan atau pondasi kolam ikan atau bisa juga menempel di tembok rumah.

Kelebihan dari pot bunga yang berukuran kecil dan sedang membuat kita bisa merubah posisi sesuai keinginan. Misal, setelah pulang kerja kita bisa mengisi waktu santai kita dengan melihat-lihat bunga di rumah dan bisa jadi sambil merubah posisi atau tempat bunga.

Selain memiliki taman bunga yang murah meriah, manfaat lainya adalah suasana rumah kita menjadi cukup asri, hijau dan udara menjadi lebih segar dan menyehatkan. (IES)


Senin, 12 Juni 2017

Manis dan Legitnya Kue Tradisional Klepon

Kue Klepon dalam pincuk daun pisang


Makanan Tradisional Klepon

Klepon adalah sejenis makan tradisional yang sudah ada sejak saya kecil. Kue klepon yang termasuk ke dalam kelompok jajanan pasar ini cukup nikmat dimakan disetiap waktu. Dan kue yang satu ini juga cukup dikenal oleh semua kalangan masyarakat.

Jadi tidak heran jika kue klepon banyak disajikan di rumah, hajatan di masyarakat hingga di acara perjamuan resmi atau di kantor-kantor.

Klepon yang didominasi warna hijau dari warna perasan daun pandan ini, termasuk dalam daftar makanan yang tidak hanya terkenal namun juga memiliki kekhasan dalam bentuk, bau dan rasanya.

Bau kue klepon yang wangi dari daun pandan ini, saat dikunyah akan pecah dan mengeluarkan gula merah yang ada di dalamnya. Tentu rasanyapun manis, apalagi ditambah ampas kelapa atau parutan kelapa yang membaluri bagian luarnya.

Bentuknya yang bulat dan kenyal seperti bakso, klepon sangat mudah untuk dimakan. Bisa dengan tangan langsung, tusuk gigi atau juga dengan garpu kecil.

Perlu diingat bahwa, karena kue klepon ini berbalur ampas kelapa, maka klepon akan cepat basi. Maka sebaiknya kue klepon dimakan tdak lebih dari separoh hari atau 4-6 jam saja.

Setelah kita tahu bentuk, rasa dan baunya, bagaimana cara membuat kue yang enak ini, berikut penjelasan singkatnya.

Kue Klepon terbuat dari tepung beras ketan yang dibentuk seperti bola-bola kecil. Kemudian diisi dengan gula merah (gula jawa), lalu direbus dalam air mendidih.

Setelah Klepon masak, lalu ditaruh atau digelindingkan di atas parutan kelapa agar ampas kelapanya menempel dan tampak lebih menarik.

Kue klepon biasanya diletakkan di dalam wadah yang terbuat dari daun pisang atau pincuk (jawa: tum-tuman).

Demikian cerita singkat kue klepon, kuliner jajan pasar yang bisa kita jumpai dipasar-pasar atau penjual keliling. Selamat berburu kue klepon dan selamat menikmati.

Terimaksih atas waktunya sudah mau membaca artikel sederhana ini. Jangan lupa kalau senang dan ingin berbagai dengan teman, tinggalkan komentar di kolom bawah dan sharenya.

Wassalam. (IES)

Jumat, 08 November 2013

Es Klining

Grafis: Imam ES

Es klining atau es batu orang kebanyakan menyebutnya demikian, dimasa tahun 80-an es semacam itu adalah sangat lazim dan merakyat bagi kalangan kebiasaan di kampung. Warnanya, merah, kuning, putih dan hijau adalah warna dasar dari lemon sirup yang dibekukan dalam kantong plastik yang memanjang dan di ujungnya diikat dengan karet plastik.

Dalam menjajagannya es itu ditaruh di dalam teremos es yang bentuknya sangat sederhana yaitu seperti teremos air panas pada umumnya, hanya teremos es ini lebih lebar dan tinggi dengan tutupnya dari kayu bulat dan sedikit diganjal kain atau plastik.

Dan bunyi khas jinggelnya adalah menggunakan tutup bel bekas sepeda ontel yang disambung dengan kayu sebagai pegangan dan di dalamnya diikat sebuah cincin atau mur bekas dengan tali kain atau plastic, maka ketika di goyang maka bunyilah klining-klinig. Seperti bel sepeda ontel

------------------------------
Grafis: Imam ES

Sebelum berangkat sekolah, tugas awal yang sudah menyapa tiap hari adalah mengambil teremos es di tempat juragan es. Pagi masih mengembun, langkah kaki mungil itu terus menembus rumput basah diantara kakinya.

Tanganya sesekali menyapa daun-daun teh-tehan dipinggir jalan, dingin dan menyekan jemarinya. Sesekali ia menerobos jalan untuk mempercepat langkahnya, badan masih belum segar karena belum diguyur jernihnya air sumur dirumahnya. Dalam benaknya hanya terpikirkan untuk bisa sampai dan menjual esnya dengan sukses.

Ditaruhlah teremos es itu di ujung sudut ruangan yang biasa untuk berjualan, ia lantas masuk dan membuka bajunya untuk mandi dan siap-siap kesekolah. Tidak jauh memang tempat ia bersekolah, hanya berjarak satu rumah didepannya.

Kini ia asik dengan tugas keduannya yaitu belajar dan mengerjakan tugas sekolah, bajunya yang sangat rapih adalah setrikaan ibundanya yang rajin dengan gosokan arangnya. Bunyi lonceng pertanda istirahat telah berbunyi, semburat anak-anak meluncur dari ruang kelas masing-masing.

Tampak anak lelaki berbadan kecil menghentikan langkah larinya dari ruang kelas, ia melihat teremos yang ia letakan di warung tadi, ia melihatnya dengan girang sebab banyak yang membelinya. Sampai jam sekolah usai, ia langsung mengambil teremos itu dan ternyata masih tersisa separuh lebih sedikit. Mukanya tidak lagi gembira seperti jam istirahat tadi, kini ia mengambil teremosnya dan membawanya pulang.

Setelah berganti baju dan makan siang, ia kembali mengambil teremos itu dan menjajakannya keliling kampong, ia duduk dan melihat teman-teman sebayanya bermain asik di pekarangan. Ia hanya sesekali tersenyum sambil menggoyang-ngoyangkan bel  ditangannya sebagai tanda ia menjajagan es kliningnya.

Setengah jam telah berlalu belum Nampak juga yang membelinya, maka iapun beranjak pergi menuju tempat lain. Dipinggiran sungai ia kembali duduk menunggu orang-orang mancing yang mungkin akan membelinya, namun rejekinya belum datang juga, sampailah waktu menuju sore, esnya masih seperti semuala.

Ia tidak berani pulang sebelum esnya habis terjual, sambil menuju tempat lain ia membunyikan belnya lebih keras dan memberanikan diri untuk bersuara dengan lantang. “Es…es…es….hanya suara burung dan desahan angin yang membalasnya, suasana hari itu terasa sepi dan berat.

Sampailah ia pada akhir kekuatannya, waktu menunjukan setengah empat sore, ia dengan langkah lemas menuju rumahnya untuk membasuh muka dan meminum seteguk air putih dan menggigitnya gula merah didapur sebagai teman manis dimulutnya.

Kini ia keluar lagi untuk menghantarkan esnya pada yang punya/juragan. Dengan harapan yang menipis ia hanya mengantongi uang Rp. 3 (tiga). Karena hanya terjual 30 buah dalam setiap 10 buahnya ia dapat 1 keuntungan.

Grafis: Imam ES


Pagi berikutnya tidaklah berbeda, ia tetap rajin mengambil es untuk dijual. Hari ini sepertinya penuh harap es yang dijualnya akan habis, sebab dikampunya ada hajatan hiburan tujuhbelas agustusan”. Ramai dan bernuansa pasar malam.

Situasinya berbeda dengan hari-hari biasanya, kini dengan senyum lebarnya ia berjalan menngelilingi arena perlombaan berbarengan dengan penjual es lainya yang lebih menarik, yaitu es gosrok dengan taburan limun warna merah di atasnya dan es goyang.

Ia memperhatikan dengan penuh dugaan bahwa esnya jadi tidak laku dan kembali tidak dapat uang. Ternyata, suasana perlombaan di acara Agustusan tidak sesuai harapannya, namun sedikit lebih baik dibandingkan dengan tidak ada perhelatan yang hanya digelar 1 tahun sekali itu.

Ia kembali optimis menjajakan esnya yang masih tersisa sepuluh buah, masih ada satu keuntungan lagi jika semua habis. Sejalan dengan usainya acara dan sepinya penonton, sepipula orang-orang yang berada dilapangan, lantas ia ikut bergegas pula kembali untuk menghantarkan sisa es yang belum terjual.

#1 Peran Keluarga dalam Menumbuhkan Kecintaan Anak terhadap Masjid

Belajar ilmu agama secara konsisten sekaligus salah satu upaya memakmurkan mushala di kampung. (Foto: Imam Edi Siswanto) #1 Peran Keluarga d...