Tampilkan postingan dengan label Ceramah Singkat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceramah Singkat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2026

#1 Peran Keluarga dalam Menumbuhkan Kecintaan Anak terhadap Masjid

Belajar ilmu agama secara konsisten sekaligus salah satu upaya memakmurkan mushala di kampung. (Foto: Imam Edi Siswanto)

#1 Peran Keluarga dalam Menumbuhkan Kecintaan Anak terhadap Masjid
Oleh: Imam Edi Siswanto, SAg, MH

Masjid dan mushala sejatinya bukan hanya ruang ibadah, melainkan pusat pembentukan iman, akhlak, dan karakter umat. Namun, realitas di banyak tempat menunjukkan berkurangnya keterlibatan anak dan remaja dalam kehidupan masjid.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari peran keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama dalam pendidikan keagamaan. Kecintaan anak terhadap masjid tidak tumbuh secara tiba-tiba, tetapi dibentuk melalui proses pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman emosional yang berakar dari rumah. 

BACA: https://ediripin.blogspot.com/search/label/Ceramah%20Singkat

Artikel ini mengulas peran strategis keluarga dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap masjid, dengan berpijak pada dalil Al-Qur’an dan hadis, praktik pendidikan di masa Rasulullah SAW dan para sahabat, serta didukung oleh temuan ilmiah kontemporer.

Harapannya, pembaca tidak hanya memahami secara konseptual, tetapi juga tergerak untuk mengambil langkah nyata dalam menghidupkan masjid dan mushala di lingkungan masing-masing.

Keluarga sebagai Madrasah Pertama Anak

Dalam Islam, keluarga dipandang sebagai madrasah pertama bagi anak. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” [QS. At-Tahrim 66: 6]

Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan iman dan akhlak anak berada di pundak orang tua. Kecintaan terhadap masjid merupakan bagian dari pendidikan iman tersebut. Anak yang sejak kecil diperkenalkan dengan masjid, baik melalui shalat berjamaah, kegiatan keagamaan, maupun interaksi social, akan membangun asosiasi positif antara masjid dan rasa aman, nyaman, serta kebersamaan.

Rasulullah SAW sendiri menegaskan pentingnya pembiasaan ibadah dalam keluarga. Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka saat mereka berumur sepuluh tahun jika mereka meninggalkannya, serta pisahkan mereka (antara laki dan perempuan) ditempat tidur” [Riwayat imam Ahmad no. 6756, Abu Daud, no. 495].

Perintah ini bukan sekadar instruksi ritual, melainkan proses pendidikan bertahap yang melibatkan keluarga sebagai pengantar anak menuju masjid.

Teladan Rasulullah SAW dan Praktik di Masa Sahabat

Sejarah Islam mencatat bahwa masjid di masa Rasulullah SAW adalah ruang yang hidup dan ramah bagi keluarga, termasuk anak-anak. Nabi SAW tidak mengusir anak-anak dari masjid, bahkan menunjukkan sikap penuh kasih kepada mereka. Dalam sebuah hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah menggendong cucunya, Hasan dan Husain, saat shalat. Hal ini menjadi pesan simbolik bahwa kehadiran anak di masjid bukan gangguan, melainkan bagian dari pendidikan iman.

Para sahabat juga mencontohkan hal serupa. Anak-anak dibiasakan hadir di masjid untuk belajar Al-Qur’an, mendengarkan nasihat, dan menyaksikan langsung praktik ibadah. Masjid menjadi ruang social, edukatif yang membentuk kelekatan emosional anak dengan nilai-nilai Islam. Dari sinilah lahir generasi sahabat dan tabi’in yang memiliki ikatan kuat dengan masjid sepanjang hidup mereka.

Perspektif Ilmiah: Pembiasaan dan Kelekatan Emosional

Kajian psikologi perkembangan dan sosiologi agama menunjukkan bahwa pengalaman keagamaan sejak dini sangat berpengaruh terhadap komitmen religius di masa dewasa. Pembiasaan ibadah dalam keluarga dan lingkungan yang suportif membentuk religious attachment, yaitu keterikatan emosional terhadap simbol dan institusi keagamaan, termasuk masjid.

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang diajak orang tuanya beribadah bersama dan dilibatkan dalam aktivitas keagamaan memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mempertahankan praktik keagamaannya saat dewasa. Sebaliknya, jika masjid hanya diperkenalkan sebagai ruang yang kaku, penuh larangan, atau tanpa kehangatan sosial, anak cenderung menjaga jarak secara psikologis.

Temuan ini sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang menekankan tarbiyah bil qudwah (pendidikan melalui keteladanan). Anak belajar bukan dari nasihat semata, tetapi dari apa yang ia lihat dan rasakan di lingkungan keluarganya.(*)

Sabtu, 24 April 2021

Di Acara Seserahan, PAI Ajak Pengantin Baru Jaga Makanan Halal

Imam Edi Siswanto, saat menyampaiakn kata sambutan di acara seserahan usai acara Ijab Qabul Ahad (14/3/2021) (Foto: Imam ES)

PURBALINGGA - Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Purbalingga, Jawa Tengah Imam Edi Siswanto (IES), mengajak pasangan pengantin baru untuk selalu menjaga diri dan keluarganya dengan selalu mengkonsumsi makan dan minum yang halal dan thoyib.

Ajakan ini, diselipkan disela-sela menyampaikan kata sambutan menerima pasrah pengantin laki-laki di Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Ahad (14/3/2021) lalu.

Hal ini mungkin jarang disampaikan diwaktu acara seserahan. Namun menurut kami hal tersebut penting, meski tidak banyak yang disampaikan terkait bab halal. Karena pertimbangan waktu yang terbatas, namun soal makan dan minum adalah kebutuhan pokok setiap manusia.

Kepala KUA Kaligondang, Saroyo, SAg saat memimpin acara Ijab Qabul di Mushala al Furqon Desa Penaruban, Ahad (14/3/2021) (Foto: Imam ES)

Sadar dengan waktu yang singkat, maka hukum makan dan minum dalam Islam disampaikanya dengan singkat pula.  Sajian makan dan minum yang tersaji dalam hajatan, menjadi salah satu sarana untuk memberi penjelasan.

Intinya, selain pengantin diingatkan untuk meluruskan niat menikah karena Allah, proses mencari nafkah dan membelanjakanyapun harus halal. Karena rezeqi yang halal akan membawa keberkahan.

Dari rezeqi atau nafqah yang yang halal itu, Islam kembali mengingatkan dengan tegas kepada kita bahwa dalam membelanjakanpun harus halal. Selanjutnya, sampai pada konsumsi makanan dan minuman juga harus halal dan toyib.

 Allah berfirman dalam Surat ‘Abasa Ayat 24

فَلْيَنْظُرِالْإِنْسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ 

Arti: Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.

Kemudian dalam surat al Baqoroh ayat 168.

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأرْضِ حَلالا طَيِّبًا وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya: Wahai manusia! Makanlah yang halal lagi baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

"Untuk itu, kami mengajak kepada pengantin baru dan segenap tamu yang hadir untuk selalu berhati-hati dan menjaga diri dan keluarganya dengan tetap mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal" ucapnya.

Insyaallah sesuai firman Allah, bahwa kita harus menjaga diri dan keluarga agar terhindar dari api neraka. Salah satunya adalah dengan selalu makan dan minum yang halal dan toyib.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim 66 : 6)

Demikian ajakan singkat yang  sampaikan terkait bab halal dalam acara seserahan disebuah hajatan. Semoga kita selalu dalam limpahan rahmat Allah SWT dan selalu terhindar dari makan dan minuman yang diharamkan, aamiin.

Penulis: Imam Edi Siswanto
(PAI Bidang JPH Kankemenag Purbalingga)

Senin, 29 Maret 2021

Dalam Khutbah Jumat, PAI Ajak Jemaah Belajar Membaca al Qur'an

Pengajian rutin IQRO' bagi orang tua dan manula di mushala an Nuur asuhan Imam Edi Siswanto, setiap malam Kamis (Foto: Dok Imam ES 2020)
Khutbah Jum'at merupakan moment terbaik untuk mengajak umat muslim meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Salah satunya dengan mengajaknya untuk bisa membaca al Qur'an, khususnya bagi remaja, pemuda , orang tua dan manula.

Ajakan tersebut disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kaligondang, Imam Edi Siswanto pada Khutbah Jum'at dengan tema Bulan Sya'ban Jadi Momentum Persiapan diri di Bulan Suci Ramadhan di masjid Baitul Mutaqin Desa Penaruban Kecamatan Kaligondang Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah, Jumat (26/3/2021) lalu.

Dalam Khutbah Jum'at, ia menekankan bahwa penting bagi umat muslim untuk bisa membaca al Qur'an dengan baik dan benar. Diturunkanya al Qur'an pada bulan suci Ramadhan, harus menjadi ruang untuk bermuhasabah atau berbenah diri khususnya dalam usaha meningkatkan kemampuan membaca al Quran.

BACA JUGA

https://ediripin.blogspot.com/2021/03/syaban-momentum-persiapan-diri-di-bulan.html?m=0

https://ediripin.blogspot.com/2020/01/tips-belajar-iqro-bersama-orang-tua.html?m=1

Menurutnya, bagi yang belum bisa membaca al Qur'an, mulai saat ini dengan niat ikhlas mencari ridho Allah dan dengan rasa suka cita diusahakan untuk mulai belajar. Bagi yang sudah bisa membaca, tingkatkan dengan kemampuan tahsin dan ilmu tajwidnya.

Dengan demikian, selain kita melakukan kegiatan ibadah wajib dan sunah di bulan Ramadhan kita memiliki target tertentu. Seperti bisa belajar membaca al Qur'an, khatam al Quran, menulis artikel, hafalan ayat dan lain lain. Dari target-target tersebut, diharapkan dalam setiap tahun ada penambahan ilmu dan pengalaman dalam beribadah.

Jangan sampai bulan Ramadhan yang kita jumpai setiap tahun berlalu begitu saja tanpa berbekas perubahan diri yang lebih baik. Harus kita sadari bahwa bulan Ramadhan, bulan yang istimewa dan mulia itu memiliki banyak hikmah dari rahmat, berkah dan ampunan. Namun sebagian besar dari kita masih belum memaksimalkan momentum ramadhan.

Disatu sisi kita sadari bahwa masih banyak saudara-saudara kita kaum muslimin yang belum bisa membaca al Qur'an. Namun kesadaran itu mengendap dan bisa jadi sirna karena tidak segera diwujudkan dalam usahanya untuk belaja menempa diri membaca al Qur'an.

Mari kita agendakan sebuah niat dan majelis khusus belajar membaca huruf Hijaiyah. Jika perlu sediakan waktu selama sebulan di masjid dan mushala bagi para orang tua maupun manula.

Sementara itu ditempat yang sama, pada pengajian Jum at Manis bagi ibu-ibu 'Aisyiyah usai Jumat pukul 14.00-15.00 WIB juga disampaikan tentang Marhaban Ramadhan dan Fadilahnya.

Waktu satu jam sepertinya tidak terasa bersama ibu-ibu dalam pengajian rutinan tersebut. Ajakan untuk bisa membaca al Qur'an dan membangun niat atau semangat diusia senja juga terus dibangun.

"insyaallah tidak ada kata terlambat untuk memulai belajar, termasuk belajar membaca Al Qur'an. Dan niat yang sungguh-sungguh itu menentukan hasil," ucapnya.

Demikian dua aktifitas kami yang bisa kami bagikan untuk pembaca setia kami. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat-Nya dan kita semua bisa berjumpa dan meraih ramadhan dengan baik, khusu dan bisa meraih taqwa, aamiin. (IES)

Kamis, 25 Maret 2021

Kita Sambut Ramadhan Dengan Suka Cita

(Desain Grafis: Imam ES)

Rasa syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, kebahagiaan yang tak terkira saat kaum Muslimin di dunia bertemu dengan bulan auci Ramadhan yang agung, penuh rahmat, berkah dan ampunan.

Marhaban ya Ramadhan, adalah sebuah ungkapan kebahagian bagi orang-orang yang beriman dalam menyambut bulan yang istimewa. Banyak keutamaan-keutaman yang dibuka oleh yang Maha Kuasa. 

Mulai dari peliptana ganda pahala hingga dibukanya pintu-pintu syurga dan ditutupnya pintu-pintu neraka. Di bulan Ramadhan, al Qur'an diturunkan dan ada malam-malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Keistimewaan tersebut tidaklah akan berlalu begitu saja bagi orang-orang yang merindukanya. Untuk itu, ungkapan syukur, kegembiraan dan suka cita sudah sepatutnya kita wujudkan dalam perwujudan ketaatan kepada Allah, hingga kita bisa meraih predikat manusia yang bertaqwa.

Sabtu, 20 Maret 2021

Penjelasan Singkat Tentang Pengertian Produk Halal

Desain Grafis: Imam ES

Apa yang dimaksud dengan produk halal?.

Menurut UU Nomor 33 tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal Pasal 1 ayat 2, Produk Halal adalah Produk yang telah dinyatakan halal sesuai dengan syariat Islam.
 
Kemudian apa yang dimaksud dengan produk?.
 
Produk adalah barang dan/atau jasa yang terkait dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetik, serta barang gunaan yang dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan oleh masyarakat. (UU Nomor 33 tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal Pasal 1 ayat 1).
 
Sementara dalam prosesnya.
 
Proses Produk Halal yang selanjutnya disingkat PPH adalah rangkaian kegiatan untuk menjamin kehalalan Produk mencakup penyediaan bahan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, penjualan, dan penyajian Produk. (UU Nomor 33 tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal Pasal 1 ayat3).
 
Demikian penjelasan singkat tentang pengertian produk halal, semoga bermanfaat.
 

Kamis, 18 Maret 2021

Hadiah Kecil Itu Melipat Dalam Saku

Jumanto (kanan) saat memberikan souvernir kepada Pujianto usai acara pertemuan rutin PAI di kediamannya, Rabu (17/3/2021). (Foto: Imam ES)


Alhamdulillah, dapat hadiah sebuah sovenir dompet kecil dari rekan Jumanto (Kak Jumbo) rekan sesama Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Purbalingga, Jawa Tengah.

Senyum kebahagian Jumanto, mengiringi rekan-rekan seprofesinya saat berpamitan pulang usai acara pertemuan rutin PAI dari dua Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kaligondang dan Pengadegan di rumahnya di Desa Pengadegan, Rabu (17/3/2021).

Sebuah tanda mata berupa dompet kecil berwarna hitam untuk tempat Surat Ijin Mengemudi (SIM) atau Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Kecil memang, karena mudah untuk diselipkan dalam saku atau dompet.

"Buat menyimpan SIM", ucap lelaki berputra dua yang juga dikenal suka melatih mendongeng ini dengan senyum saat memberikan sovenir.

Sepintas, memberikan hadiah berupa sovenir tampak biasa-biasa saja. Namun menurut saya, ada pesan yang mendalam jika melihat akan fungsi dari sovenir itu.

Seperti kita ketahui, SIM adalah bukti registrasi dan identifikasi yang diberikan oleh Polri kepada seseorang yang telah memenuhi persyaratan administrasi, sehat jasmani dan rohani, memahami peraturan lalu lintas dan terampil mengemudikan kendaraan bermotor.

Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib memiliki Surat Izin Mengemudi sesuai dengan jenis Kendaraan Bermotor yang dikemudikan (Pasal 77 ayat (1) UU No.22 Tahun 2009).

Untuk mendapatkan SIM juga bukan barang mudah, karena ada beberapa tahapan tes atau ujian tertulis dan praktik. Dan dibutuhkan beberapa hari untuk mendapatkanya.

Menurut kami secara psikologis, seseorang yang diberi hadiah akan senang dan berbahagia. Oleh karena itu, siapa saja yang diberi hadiah harus berusaha membalasnya.

Aisyah bercerita,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا

“Rasulullah SAW biasa menerima hadiah dan biasa pula membalasnya.” (HR. Bukhari).

Kemudian aspek sosiologis, memberi hadiah akan menimbulkan rasa cinta di antara sesama, membangun ukhuwah, dan memperteguh hunungan sosial.

Nabi SAW bersabda,

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai," (HR. Bukhari).

Saling memberi hadiah berarti berbuat kebajikan. Allah SWT berfirman.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran," (QS. al-Nahl/16: 90). 

Jadi saat kita memberi hadiah adalah salah satu bukti kita melaksanakan perintah Allah SWT.

Maka, sovenir kecil yang berfungsi untuk tempat surat berharga itu menjadi cukup istimewa dan menjadi kenangan indah.

Dengan memberi hadiah, jalinan silaturahim menjadi semakin erat. Komunikasi sesama rekan seprofesi juga semakin hangat.

Terimakasih Kak Jumbo, hadiahnya sangat bermanfaat. Semoga menjadi amal ibadah. Dan semoga Allah menggantinya dengan pahala dan rezeqi yang bermanfaat dan baarokah, aamiin. (IES)

Senin, 04 Januari 2021

Sunah dan Dzikir Sebelum Tidur: Bagian 1

Desain Grafis: Imam ES
 

Pembaca yang budiman, berikut beberapa bacaan dzikir malam yang dapat kita amalkan sebelum tidur. Namun sebelumnya kita disunahkan untuk:

 

1.    Berwudhu sebelum Tidur

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ.

 

“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan sholat.” [HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710]

 

2.    Tidur Dengan Posisi Menyamping Ke Kanan

اِضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ اْلأَيْمَنِ.

 

“Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” [HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710].

 

3.    Meletakkan Tangan Kanan Di Pipi Kanan

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

 

4.    Jangan Tidur dengan Posisi Tengkurap

“Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang dimurkai Allah Azza Wa Jalla.” (HR Abu Dawud).

 

5.    Membersihkan Tempat Tidur

“Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengibaskan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya…”. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

6. Tidur Sesegera Mungkin Setelah Isya

“Rasulullah shallallahu ‘allaihi wasallam membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

7. Melaksanakan Shalat Witir.

“Kekasihku yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku tiga wasiat: (1) berpuasa tiga hari setiap bulannya, (2) mengerjakan dua rakaat shalat Dhuha, (3) mengerjakan witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari)

 

8. Membaca Doa Sebelum Tidur

Dari Hudzaifah, ia berkata, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ 

 

Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari).

 

Adapun Bacaan Dzikir Sebelum Tidur baca pada Bagian 2

https://ediripin.blogspot.com/2021/01/sunah-dan-dzikir-sebelum-tidur-bagian-2.html 

Sunah dan Dzikir Sebelum Tidur Bagian 2

Desain Grafis: Imam ES
 1. Membaca Surat Al Ikhlas

 

Rasulullah SAW pernah berwasiat kepada istrinya, Siti 'Aisyah. Rasul bersabda, "Wahai 'Aisyah, janganlah engkau  tidur sebelum engkau lakukan empat hal:

 

Mengkhatamkan Alquran, memperoleh syafaat dari para nabi, membuat hati kaum Mukminin dan Mukminat senang dan ridha kepadamu, serta melakukan haji dan umrah."

'Aisyah bertanya, "Ya Rasul, bagaimana mungkin aku melakukan itu semua sebelum tidur?" Rasulullah SAW menjawab, "Sebelum tidur, bacalah Qul huwallahu ahad tiga kali. Itu sama nilainya dengan mengkhatamkan Alquran".

Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya, "Kemudian agar engkau mendapat syafaat dariku dan para nabi sebelumku, bacalah shalawat: Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama shalayta 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim. Allahumma barik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama barakta 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim fil 'alamina innaka hamidun majid." 

"Sebelum tidur, hendaknya kamu lakukan haji dan umrah." Bagaimana caranya? Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang membaca subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha ilallah huwallahu akbar, ia dinilai sama dengan orang yang melakukan haji dan umrah".

Baca Juga:

https://ediripin.blogspot.com/2021/01/sunah-dan-dzikir-sebelum-tidur-bagian-3.html

Bacalah surat al ikhlas sebanyak 3 kali, ini artinya sama dengan menghatamkan al quran sebelum tidur.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ -  اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ - لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ -  وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

 

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4).

 

Kemudian setelah membaca ketiga surat tersebut tiupkanlah pada dua telapak tangan dan mulailah mengusap tubuh yang dapat di jangkau, dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan.

 

2. Membaca Surat al Falaq dan an Naas

Agar terhindar dari godaan dan kejahatan manusia dan syaitan bacalah surat al Falaq dan an Naas

 

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ -  مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ - وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ -  وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ - وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ  

 

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. Al Falaq: 1-5)

 

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ - مَلِكِ النَّاسِۙ - اِلٰهِ النَّاسِۙ - مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ - الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ - مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

 

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. An Naas: 1-6)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidakkah kamu melihat ayat-ayat yang diturunkan malam ini? Tidak ada yang semisal dengannya, yakni qul a’udzu birabbin nas, dan qul a’udzu birabbil falaq.” (HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi, dan An-Nasa’i).(*)

#1 Peran Keluarga dalam Menumbuhkan Kecintaan Anak terhadap Masjid

Belajar ilmu agama secara konsisten sekaligus salah satu upaya memakmurkan mushala di kampung. (Foto: Imam Edi Siswanto) #1 Peran Keluarga d...