Kamis, 31 Oktober 2013

Masjid dan Mushala Kebanggaanku



Pengajian rutin Remaja Masjid di masjid Baitul Muttaqien (Foto: Imam ES)
Masjid dan Mushala Kebanggaanku
(sebuah catatan kecil)

Secara dhohiriyah kita bisa melihat sejumlah bangunan tempat ibadah kaum muslim di desa kita (Desa Penaruban) sebanyak 14 Masjid/mushala dengan status yang berbeda dalam penyebutan dan fungsinya (sholat Jum’at).

Satu bangunan berdiri dengan nama dan fungsi Masjid dan dua berdiri dengan fungsi mushala. Kemudian berkembang menjadi Masjid, selebihnya 11 lagi masih berfungsi sebagai Mushala dan merata di setiap dusun/dukuh.

Dari sudut sejarah kami tidak tahu pasti kapan Islam mulai masuk dan siapa/tokoh yang membawa Islam ke kampung kita hingga munculah surau atau langgar. 

Disamping rujukan sejarah juga tidak ada, tapi mungkin sejarah dari mulut ke mulut bisa saja kita telusuri dengan catatan sumbernya bisa kita pertanggungjwabakan.

Baca Juga :
https://ediripin.blogspot.com/2013/08/sepenggal-cerita-di-serambi-masjid.html

https://ediripin.blogspot.com/2013/08/uneg-unegku-di-trotoar.html

https://ediripin.blogspot.com/2013/08/nonton-tv-jaman-jadul_144.html

https://ediripin.blogspot.com/2013/08/risban-kursi-bambu-panjang.html

Baik, kita tinggalkan dulu soal sejarah itu, kami lebih fokus kepada aspek berdirinya sebuah bangunan tempat ibadah dan pengaruhnya di masyarakat.

Kita mafhum bahwa berdirinya mushala-mushala di sekitar kita adalah bukti telah tumbuhnya kesadaran dan kemauan warga dalam memenuhi sarana/tempat beribadah dilingkungannya, terlepas dari maksimal atau belum mushala itu sebagai pusat kegiatan hal ini kita bahas selanjutnya.

Beridirinya sebuah bangunan tempat ibadah adalah lahirnya kesadaran rohani secara kumulatif. Kesadaran itu mengalir dan mengumpul menjadi kesadaran sosial yang selanjutnya menjadi peluru yang melesat kuat dengan lahirnya kesadara-kesadaran baru.

Kesadaran baru itu, seperti infaq, sodaqoh, zakat serta kesadaran untuk bergotong royong secara fisik demi berdirinya cita-cita yang agung untuk memiliki sebuah bangunan untuk bersujud yaitu rumah Allah, mushala, langgar. Atau surau.

Aspek inilah yang menurut hemat kami sangat menarik dan perlu di gali apa sebenarnya hikmah di balik semangatnya mendirikan tempat ibadah itu. Sebab dari ke 14 belas bangunan itu bila ditelusuri dari sudut perkembangan kesadaran untuk mendirikannya, tokoh penggeraknya, sumber dananya, kegotong royongannya dan lain sebagainya bisa kita sebutkan bahwa kesemuanya itu ada persamaan dan perbedaan dalam berproses mewujudkan sebuah mushala/masjid.
Pengajian rutin Remaja Masjid di mushala al Haq Dusun 1 Penaruban (Foto: Imam ES)

Kesamaanya adalah bahwa, pertama kesadaran itu timbul karena proses silaturahmi dan dialogh antar tokoh masyarakat yang kemudian melebar kewarga, Kedua adanya faktor prestise sosial ketika bisa membuktikan berdirinya sebuah bangunan mushala dilingkungannya, sebut saja adanya rasa kebanggaan dan bukti kemampuan sosial.

Lalu ketiga adalah adanya keyakinan yang lazim di masyarakat bahwa membangun tempat ibadah tidak ada istilah tidak rampung atau selesai “ Pasti rampung”. Inilah yang menurut kami tiga hal alasan mendasar semangat di masyarakat dalam hal itu.

Kemudian apa yang menyebabkan timbulnya perbedaan dalam “berproses” mendirikan bangunan masjid/mushala itu?. Yang pertama adalah faktor kemampuan memobilisasi masyarakat pada tataran sosialisasi pentingnya sarana ibadah. Hal ini terbukti bahwa ke 14 bangunan itu tidak ada yang berdiri dalam waktu yang hampir bersamaan.

Kemudian yang kedua adalah faktor pertama tersebut berpengaruh pada kemampuan secara finansial/pendanaan. Sebab mendirikan sebuah bangunan sekalipun dulu belum menggunakan batu bata, semen dan sebagainya, tetapi bangunan yang terstruktur dari bambu dan kayu tidak terlepas dari besarnya dana yang di butuhkan waktu itu.

Dan ketiga adalah belum seragamnya kemampuan secara keilmuan, spiritual dan tanggung jawab dalam pengelolaan memakmurkan masjid/mushala, seperti Susunan Takmir, imam, muadzin, pengurus rumah tangga hingga pengelolaan zakat, infak, wakaf, sodaqoh serta tanggung jawab memakmurkan jama’ahnya/warga sekitarnya.

Saat bangunan sudah berdiri, selanjutnya adalah apa yang harus dilakukan dengan bangunan itu?. Maka baiknya kita mengetahui dan faham akan fungsi dan manfaat bangunan sarana ibadah tersebut ( hal ini akan di bahas pada tema khusus ).

Dan hal ini akan kembali kepada masyarakat itu sendiri, Sesungguhnya jika masyarakat sudah mampu mendirikan bangunan ibadah secara fisik maka pertanyaan bagaimana pengelolaannya tidak perlu terlontar.

Sebab idealnya keberanian mendirikan bangunan secara fisik tentunya telah siap pula kesiapan secara mental, keilmuan dan rohaninya, Tapi tidaklah mengapa jika pertanyaan itu muncul sebab dari sinilah sebenarnya kami berani menulis “SEBERAPA JAUH PENGARUH MASJID/MUSHALA PADA PEMBANGUNAN MASYARAKAT ATAU LINGKUNGANNYA”,

Jadi sangat wajar jika pertanyaan itu muncul dan ini akan selalu menjadi pertanyaan di kalangan masyarakat,

Pertanyaanya, pertanyaan tersebut ditujukan kepada siapa dan mengapa harus bertanya? Menjawab soal tersebut tidak mungkin hal itu dilakukan secara bebas. Tapi pastinya kepada yang mewakili menjadi pengurus atau takmirnya.

Sangatlah tidak mungkin jika bangunan telah berdiri tapi tidak ada takmir dan tidak ada aktifitasnya. Pengurus masjid/mushala adalah manifestasi dari tanggungjawab rohani dan sosial. Agar aktifitas peribadahan dan sebagainya bisa tertata/termanajemen dengan baik.

Dan sangat disayangkan jika sebuah bangunan berdiri tidak ada pengurusnya. Namun bisa saja hal ini terjadi karena kemampuan memiliki sarana ibadah baru sebatas mampu membangun tempat ibadah tapi belum memiliki kemampuan/ilmu pengelolaannya.

Menurut hemat kami inilah yang sangat menarik. Sebab bicara soal kemampuan keilmuan dalam mengelola masjid/mushala adalah bisa menjadi bukti berjalannya aktifitas peribadahan ritual/sholat berjamaah dan pengorganisasian aktifitas jama’ah atau warga sekitarnya.

Dan inipun tidak berhenti pada persoalan adanya aktifitas yang berjalan di masjid/mushala tersebut atau kasarnya bisa disebut “asal jalan”. Aktifitas masjid itu harus mampu berdimensi uluhiyyah/rubbubiyah dan insaniyah/kemanusiaan,

Jadi jika tempat ibadah itu dimanfaatkan sebatas untuk sholat berjama’ah saja apa lagi tidak genap 5 waktu, maka bisa dipastikan tempat masjid/mushala itu gagal dalam membina jama’ahnya dan berpotensi tidak banyak pengaruhnya dalam membina rohani, kecerdasan, keilmuan, serta kesejahteraan lingkungannya.

Jadi idealnya masjid harus mampu memiliki minimal :
  1. Takmir/Susunan Pengurus
  2. Agenda kegiatan
  3. Peta Dakwah
  4. Badan otonom Pengelolaan Zakat, Infaq, Sodaqoh, Wakaf dll. 
Jika kita amati secara umum di lingkungan kita bagaimana masjid/mushal-mushala itu di kelola dari fisik bangunan dan isi kegiatan rohani dan sosialnya.? Andalah yang bisa menemukan jawabanya. Sebab anda ikut bertanggungjawab dalam pengelolaanya minimal secara moral.

Sukur secara fisik juga terlibat, sebab hal ini akan berpengaruh dan berlanjut pada keberlangsungan tongkat estafet secara keseluruhan dari bangunan masjid/mushala itu dan tanggungjwabanya pada generasi berikutnya.

Berjalanya pergantian tanggungjawab memakmurkan/pengelolaan masjid/mushala tidak bisa dianggap remeh apalagi menganggap tidak penting, keberlangsungan pergantian tanggungjawab ini adalah bagian dari sunatullah/hukum alam yang pasti terjadi.

Dan idealnya tidak mungkin berjalan secara alamiah, sebab transformasi ilmu dan peranan ini tidak akan lahir bak jamur di musim hujan. Tapi semua itu harus direncanakan, disosialisasikan, disiapkan, disaranakan dan seterusnya sampai proses pendewasaan.

Dan selanjutnya kemampuan memahami peranya sebagai bagian dari jama’ah masjid/mushala berkembang menjadi tanggungjawab meneruskan tongkat estafet kepengurusan dalam memakmurkan masjid/mushalanya.

Jadi apa sebenarnya manfaat yang harus ditimbulkan oleh masjid/mushala pada jama’ah atau masyarakat sekitarnya? Dalam catatan sejarah dimana Nabi Muhammad saw kali pertama sebelum membangun masjid, Rasulullah SAW membangun terlebih dahulu bangunan keilmuan secara komprehensif/menyeluruh kepada para sahabatnya dalam bebagai ilmu.

Hal ini sangat penting sebagai dasar/pondasi atas bangunan yang secara fisik nantinya akan di bangun kali pertama. Seperti kita pahami bahwa sejak zaman Rasulullah Muhamad SAW, masjid bukan hanya tempat ibadah tetapi merupakan pusat kegiatan berdimensi luas.

Ketika Rasulullah Saw dan para sahabatnya Hijrah dari Mekkah ke Madinah, beliau singgah di suatu tempat yang dikenal dengan Quba. Disinilah Rasulullah membangun sebuah Masjid yang diberi nama Masjid Quba. Begitu juga ketika sampai di Madinah Rasulullah membangun Masjid Nabawi. Ini semua menunjukan bahwa Masjid memiki kedudukan yang sangat penting bagi kaum muslimin.

Di zaman Rasulullah Saw, Masjid menjadi sarana untuk memperkokoh iman para sahabatnya. Disamping itu, Masjid juga digunakan sebagai sarana peribadatan dan tempat mengkaji ajaran Islam. Allah berfirman :

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا الله َ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ . 

Hanyalah yang memakmurkan Masjid-Masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan Shalat, menunaikan Zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk (QS: At-Taubah: 18).

Rasulullah saw menjadikan Masjid sebagai sentral ilmu pengetahuan. Dari Masjidlah Rasulullah membina masyarakat baru Madinah. Ahlu Suffah adalah mereka yang banyak mengambil manfaat dari ajaran Rasulullah. 

Disamping mereka tinggal dibagian belakang masjid mereka juga sangat tekun menghafal hadist-hadist Rasullah Saw. Abu Hurairah adalah salah seorang dari ratusan Ahli Shuffah yang banyak meriwayat hadis dibandingkan sahabat lainya.

Tradisi menjadikan Masjid sebagai pusat ilmu pengetahuan ini diteruskan oleh para Ulama Muslimin dalam mengembangkan Risalah Islam setelah wafatnya Rasulullah Saw. Dan bagaimana dengan masjid/mushala dilingkungan kita, apakah demikian?

Di era modern sekarang ini kita harus mampu memerankan dan memakmurkan Masjid. Memakmurkan Masjid mempunyai dua pengertian. Hissi dan maknawi. Hissi berarti membangun Masjid secara fisik, membersihkanya, melengkapi sarana wudhuk dan yang lainya.

Sedangkan memakmurkan Masjid secara Maknawi adalah meramaikan Masjid dengan shalat berjama`ah, membaca al-quran, i`tikaf, dan ibadah lainya.

Dan yang tidak kalah penting adalah menjadikan Masjid sebagai pusat kegiatan dan pengembangan masyarakat. Dan disamping itu kita harus bisa memposisikan Masjid sebagai wadah pemersatu kaum muslimin. Menghidupkan kembali peranan Masjid dengan segala macam aktivitas yang telah kita paparkan diatas yang telah terbukti membawa kaum muslim pada puncak peradaban besar.

Firman Allah SWT
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. (QS. AI Baqarah : 245)

Sabda Rasulullah Muhammad SAW
“Barang siapa yang telah membangunkan sebuah masjid, yang sengaja mencari keridhaan Allah, nanti Allah buatkan pula untuknya sebuah rumah di dalam syurga”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian, yang menurut hemat kami bisa menjadi catatan penting untuk menggugah hati kita, utamanya hati dan semangat kami pribadi sebagai penyusun tulisan ini, semoga Allah melimpahkan Rahmta, Hidayah serta Taufiqnya kepada kita dan selebihnya Wallahu’alam bi showab. (ies)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berita Foto Rapat Kerja (Raker) PD IPARI Purbalingga

    Rapat Kerja (Raker) PD IPARI Purbalingga, Anrawina Owabong, Kamis (22/2/2024)  (FOTO: Imam Edi Siswanto) Berikut Rapat Komisi/Bidang dan...